7.6.10

Iri Hati


Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

Ada sebuah kisah di Jeram Niagara, beberapa burung sering menukik mengambil air minum yang bersih. Tanpa mereka sadari, beberapa tetes air kecil jatuh di sayap mereka. Ketika hendak minum lebih banyak, tetesan air makin banyak jatuh ke sayap mereka sampai akhirnya mereka tidak kuat lagi dan tiba-tiba jatuh.

Iblis tidak selalu berusaha menjatuhkan kita dengan "dosa besar". Acap kali ia memakai "dosa kecil" untuk membuat kita jatuh. Memang, dosa tersebut tidak serta merta membuat kita jatuh. Tetapi setelah terkumpul cukup banyak, kita akan mengalami kejatuhan yang fatal.

Salah satu "dosa kecil" adalah iri hati. Suatu hari Iblis menyuruh anak buahnya menggoda petapa dari Afrika Timur. Namun petapa yang sudah terlatih ini tidak mudah digoyahkan. Akhirnya Iblis turun tangan sendiri. Ia mendekati petapa itu dan berbisik,, "Saudaramu baru saja diangkat menjadi uskup." Mendengar berita itu, seketika itu juga si petapa marah dan iri hati, "Mengapa bukan aku yang dipilih? Bukankah aku lebih senior, lebih cakap, dan lebih rohani?"

Iri hati merupakan senjata Iblis yang paling ampuh untuk mengalahkan orang yang mengejar kekudusan. Karena itu, jangan pernah izinkan hati ini dipenuhi oleh dosa-dosa kecil, karena jika kita tidak berhati-hati, dosa kecil itu justru akan berakibat fatal. Mari kita perangi dosa dengan berkata, "Tidak!" untuk setiap tawaran Ib
lis
»»  READMORE...

Keberanian yang mengubah segalanya


Alkisah, disuatu kolam yang kini airnya hampir tidak ada lagi, hidup seekor katak yang lahir dari keturunan yang baik, baik karena ia mampu lompat cukup jauh, yakni sekita 9 kaki 3 inci.
Suatu ketika ia hendak mencari kolam lain yang airnya masih penuh, serta ditumbuhi bunga-bunga nan indah disekelilingnya dan ditinggali oleh berbagai macam hewan serangga dan binatang-binatang lainnya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk pergi dan mencari kolam baru, niatnya itu diikuti oleh semangat yang menggebu-gebu, hari demi hari, minggu demi minggu ia berpetualang untuk mencari kolam yang ia impi-impikan itu. Nyatanya, ia malah masuk kedalam hutan yang hanya ditumbuhi oleh pohon-pohon rindang yang tinggi.

Semangatnyapun mulai turun perlahan-lahan menuju putus asa, ditengah keputus asaannya itu, ia bertemu dengan burung hantu, yang kelak akan menjadi guru serta pembimbingnya. Si burung hantu itu mulai menasihati serta menyemangati sang katak. Banyak nasihat dari burung hantu yang membuat ia semangat dan kembali menggairahkan semangatnya itu, meskipun kadangkala ia merasa tidak mampu, tapi, karena kemauan yang kuat serta niat yang baik, ia pun mampu menjalani petualangannya mencari sebuah kolam yang selama ini ia damba-dambakan.

Hari demi hari berlalu, sang burung hantu selalu mengajarkan bahwa, Keinginan dapat diwujudkan dengan niat serta kemauan yang kuat, karena hidup ini adalah pilihan, apakah kita mau menjalaninya, atau tidak. Hidup bukan diisi oleh peluang-peluang karena itu, hidup ini harus selalu berjuang untuk mendapatkan apa yang kita harapkan, salah satunya adalah kita harus bisa berjuang, berjuang mengatasi rasa takut akan kegagalan dalam mewujudkan impian kita, kita harus bisa mentransformasi rasa takut itu, menjadi berani, berani mengatasinya serta berani dalam menerima resiko-resiko yang akan kita hadapi. Itulah hidup yang sejati ! Ketika kita mampu menjalani semuanya itu, niscaya, kita akan menjadi manusia yang tangguh...
itulah kira-kira rangkuman nasihat-nasihat dari si burung hantu kepada sang katak.

Suatu kali, burung hantu itu memberitahukan kepada katak, bahwa ada tempat (kolam) yang sesuai dengan impian sang katak itu, namun, ada satu halangan besar, yaitu katak mesti melewati Sungai Pelanting (dinamai pelanting, karena banyak orang yang mencoba utk menyebrangi sungai itu, namun seringkali mereka terpelanting karena kuatnya arus).
sekejap, sang katak duduk termenung, mencoba kembali mengingat-ingat motivasi yang pernah diberikan kepadanya.

Sebuah keputusan yang tak terkira pun terlontar, sang katak memutuskan untuk berusaha melewati sungai itu dengan gigih dan berani,tak peduli apa ia akan gagal atau tidak !
Oleh karena itu, beberapa bulan sebelum ia menyebrangi sungai itu, ia terus berlatih, agar otot2 kakinya kuat untuk melompati sungai itu.
Akhirnya, setelah sekian bulan berlatih, kini tiba gilirannya bagi si katak untuk mewujudkan mimpinya serta harapannya itu...

Oleh karena keberanian serta diikuti niat serta kemauan yang kuat, katak itu berhasil melewati rintangan-rintangan itu, meskipun ia harus jatuh-bangun dalam proses untuk melewatinya....Hidupnya kini dipenuhi oleh niat serta gairah dalam menjalani hidup.....

Terkadang kita memiliki impian serta keinginan besar, namun, acapkali pula keinginan kita itu terhambat oleh karena ketakutan kita dalam menerima resiko yang ada didalamnya, ketahuilah, jika kita berusaha menghindari resiko-resiko itu, berarti kita menolak untuk mewujudkan impian kita itu, diperlukan keberanian untuk mau mengambil resiko itu !
Perkara kita gagal atau berhasil, percayalah, bahwa kita sudah mewujudkan sebagian dari impian dan harapan kita....


(Intisari dari buku "PING" karangan Stuart Avery Gold)
»»  READMORE...

4.6.10

Don't see by it looks


Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal di lantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.

Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya. “Lho, dia ini juga hampir cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun,” pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh...!

Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, “Selamat malam. Saya kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.” Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar.

“Aku rasa mungkin karena wajahku. Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi..."

Untuk sesaat aku mulai ragu-ragu, tapi kemudian kata-kata selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku, “Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang di luar sini, di veranda samping ini. Toh bis ku esok pagi-pagi juga sudah berangkat.” Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat di beranda.

Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau-kalau ia mau ikut makan. “Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan.” Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat. Selesai dengan mencuci piring-piring, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang terlampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini.

Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak-anaknya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka di tulang punggung. Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat! Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa-rupanya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan.

Saatnya tidur, kami bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya dikamar anak-anak. Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, "Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal disini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi."Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, "Anak2 anda membuatku begitu merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak2 tampaknya tidak terganggu."

Aku katakan silahkan datang kembali setiap saat. Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi2 jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh2, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami. Selama tahun2 ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman2 dia menjadi makin bernilai...

Ketika aku menerima kiriman oleh2 itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. "Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!" Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya,mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.

Baru2 ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman2 bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan [timum] yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata,"Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam didalam bejana terindah yang kumiliki."

Tapi temanku merubah cara pikirku. "Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu," ia coba terangkan, "dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya di taman."

Ia pastilah terheran2 sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu disurga. "Hah, yang ini luar biasa bagusnya," mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu." Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu di dalam badan kecil ini." Semua ini sudah lama terjadi, dulu dan kini, di dalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.

Bukan yang dilihat manusia, yang dilihat Allah. Manusia melihat apa yang didepan mata, namun Tuhan melihat hati kita..
»»  READMORE...