28.8.15

Mengenang Jogja...



Jogja...
adalah tempat dimana segala awal perjalananku sebagai seorang 'musafir' dimulai. Belajar di tempat orang, dan hingga akhirnya, syukur pada Tuhan boleh diakhiri dengan baik. Masa-masa peralihan dari remaja eS-eM-A hingga sekarang sebagai seorang pemuda dewasa bisa dikatakan terproses di tempat ini. Kenangan manis, semanis gudeg dan bakpia ter-rajut rapi nan indah di kota ini. 5 Tahun mungkin nampaknya singkat bagi sebagian orang, tetapi ia tak cukup dikisahkan dalam ratusan atau bahkan ribuan kertas. ia terpatri dalam sanubari terdalam, juga, ia menguasai satu bagian penting dalam hatiku.

Jogja... 
adalah tempat dimana aku dan kamu bertemu. ia adalah pelabuhan pertama dimana sampan kehidupan kita masing-masing kita dayung, mengarungi samudera hidup yang luas pula dalam, ngeri namun ada matahari yang tetap berseri. meninggalkan kota ini dalam hitungan hari terasa berat, bukan karena aku takut melangkah ke depan.. tetapi, karena kenangan-kenangan yang kita bangun terlalu indah, dan mempesona jiwaku dalam ketertegunan nan syahdu...

28/8/15-02.40
Bilik 6-Dederuk 8
Demangan Baru-Yk

»»  READMORE...

5.7.13

Bekerjasama Menggunakan Karunia yang Berbeda-beda

Bekerjasama menggunakan karunia yang berbeda..

Setiap manusia pada dasarnya diberikan talenta, kemampuan, maupun bakat/potensi yang beraneka ragam. Talenta atau karunia itu ada untuk kita kelola dan kembangkan, dan kita pakai untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan (bdk. Mat. 25:14-30). Namun seringkali kita sulit untuk melihat potensi ataupun karunia yang kita miliki, kita bahkan enggan untuk mengelola segala potensi yang kita miliki itu.  Potensi atau karunia yang kita miliki itu sejatinya kita pakai bersama untuk ikut serta dalam membangun dan pembangunan jemaat, tanpa keikutsertaan kita, maka, jangan berharap dan bermimpi kita memiliki gereja yang "maju".

Memajukan gereja adalah kerinduan tiap kita. Namun, permasalahannya adalah apakah ketika kita telah ikut serta memajukan jemaat kita, kita akan 'bebas' dari persoalan? Tentu tidak, justru dari situlah kita akan semakin banyak belajar untuk terus mengelola pembangunan gereja ditengah kepelbagaian karunia/talenta/potensi yang ada dijemaat. Bekerjasama, menjadi kunci kita untuk mewujudkan pembangunan jemaat sekaligus dalam mendayagunakan talenta kita dalam kehidupan berjemaat. Hindari sikap egoistik dan individualistik, bukan aku atau saya, tapi KITA! Bekerjasama dalam kehidupan gereja maupun masyarakat, merupakan panggilan kita sebagai sebuah komunitas iman, untuk terus mewujudkan misi Allah (Missio Dei) dalam kepelbagaian potensi dan karunia-karunia jemaat. 

»»  READMORE...

17.7.11

Urusan 'si' Pribadi !

Suatu hari,ada sepasang sahabat yang bercengkrama...
mereka bernama Budi dan Adi..

Budi berkata pada Adi
Budi: heh di, kamu kenal kan sama si Rendi??
Adi: kenallah, dia kan teman sebangkuku di SMA.Emg ada apa dg dia??
Budi:ehmmm... gni...... eemmm...eitzz tapi jgn bilang siapa2 ya...
Adi: oke.. Emang ada apa sih??Budi: ini masalah pribadi soalnya!!!
Adi: lhohh??? katanya masalahnya Rendi? koq malah ngomongin si Pribadi??kalo ngomongin maslaah si pribadi jgn sama aku, aku ga kenal sama si pribadi
Budi: aah kamu... bukan gitu.. ini masalah rahasianya si Rendi...

anekdot "itu urusan pribadi" masuk akal juga untuk mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu mengurusi urusan orang lain yang memang bukan urusan kita. seperti menggosipkan keburukan orang lain / mencritakan aib orang lain pada khalayak. Apalagi kita pasti tidak mau jadi bahan pembicaraan orang lain...

Pertanyaannya : Mampukah kita menahan "rasa ingin tahu" yang berlebih itu ??



(Written by: Yohanes Putra Pratama)
»»  READMORE...

Berhasil, Masalah, dan Hadiah

Apa yg kita raih sekarang adalah hasil dari usaha-usaha kecil yang kita lakukan trus menerus. KeBERHASILan bukan sesuatu yang datang begitu saja. Bila kita yakin pada Tujuan dan Jalan kita, maka kita harus memiliki ketekunan untuk berusaha. Ketekunan adalah kemampuan kita untuk bertahan di tengah tekanan dan kesulitan. Jangan hanya berhenti pada langkah pertama!

Bila kita menganggap MASALAH sebagai BEBAN, kita mungkin akan menghindarinya. Bila kita menganggap MASALAH sebagai TANTANGAN, kita mungkin akan menghadapinya. Namun, MASALAH adalah HADIAH yang dapat kita terima dengan sukacita. Dengan pandangan tajam, kita melihat keBERHASILan dibalik setiap MASALAH.

MASALAH adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, HADAPILAH dan UBAHLAH menjadi kekuatan untuk BERHASIL. Tanpa MASALAH,kita tak layak memasuki jalur keBERHASILan. Bahkan hidup ini pun MASALAH, karena itu terimalah sebagai HADIAH !!

Sekarang pertanyaannya: mampukah kita menerima MASALAH sebagai HADIAH ??
Hanya dengan menyerahkan smua pada Tuhan kita akan MAMPU !!
Mat 11:28-30


 (written by: Yohanes Putra Pratama)
»»  READMORE...

99 Balloons

Video ini mengisahkan sekaligus hendak mengajarkan kita bagaimana untuk bersyukur dan selalu berserah kepada Sang Khalik, sekalipun dan meskipun kita berada dalam situasi yang betul - betul tidak enak.

Karena itu, nikmatilah setiap detik yang ada bersama dengan orang yang anda kasihi, dan syukurilah itu !

Please enjoy this short video....
»»  READMORE...

Kesetiaan ?


Siapapun didalam dunia ini, hampir semuanya memerlukan yang namanya KESETIAAN, didalam segala hal.
Baik itu kesetiaan kepada pasangan, kesetiaan kepada sesame, kesetiaan pada suatu janji atau sumpah atau apapun, bahkan, kepada Tuhan-pun kita dituntun untuk setia !

Hendaknya pula apabila kita memang benar setia, memang kita setia karena kita mengasihi dia yang kita cintai/kasihi/sayangi, bukan karena kita takut atau paksaan baik itu dari dalam diri kita maupun dari luar diri kita.

Semakin setia kita kepada seseorang atau kepada siapapun itu, berarti menunjukkan seberapa besar sayang kita kepada orang yang kita kasihi itu, menunjukkan seberapa pentingnya dia dalam hidup kita, bahkan menunjukkan seberapa dalamnya perasaan kita kepada dia.

Ada suatu kisah nyata, tentang kesetiaan atau loyalitas se-ekor anjing kepada tuannya, di daerah Edinburgh, Skotlandia. Ada seorang petani yang bernama John Gray yang hanya hidup sendiri ditemani oleh anjing kecilnya, setiap hari selama hidupnya, John selalu bersama-sama anjingnya apabila ia sedang bekerja di ladang, pergi ke pasar untuk menjual hasil taninya, ataupun pergi ke kota denga menggunakan kereta untuk berbelanja. Karena amat setianya anjing tersebut pada pemiliknya, maka anjing inipun sudah hafal rute atau jalan-jalan mana di daerah tersebut yang pasti dilalui oleh tuannya tersebut.  Suatu, hari John hendak pergi berbelanja ke kota dengan menggunakan kereta dari stasiun seperti biasanya, entah mengapa pada hari itu, ia tidak mengajak anjing kesayangannya itu untuk pergi bersama dia, melainkan ia hanya mengunci anjingnya itu didalam rumahnya. Ketika John hendak kembali dari kota, suatu peristiwa naas menimpanya, yang mengakibatkan John meninggal, ketika John wafat, tidak ada seorangpun yang mengetahui tentangnya, sehingga ia dimakamkan dengan nisan tanpa nama. Lepas dari tentang John, di rumahnya, sang anjing setia itu mulai gelisah, ia berusaha meronta keluar dari rumah karena ia tahu, bahwa ini tidak seperti biasanya, berhasilah ia keluar dari jendela, selama beberapa jam, dengan mengandalkan penciumannya ia terus menyusuri daerah tersebut, bahkan hingga ke kota, hebatnya, Anjing tersebut berhasil menemukan makam tuannya dan orang-orang di kota itu mengetahui bahwa yang meninggal itu adalah petani John dari desa, mulai sejak saat itulah anjing ini tidak pernah dan tidak mau beranjak dari makam sang tuan, kecuali ketika anjing itu merasa lapar, karena disana ada seorang tukang daging yang baik hati untuk member makan anjing itu. Anjing setia tersebut setia menjaga makam tuannya selama 14 tahun, bahkan ia dikuburkan bersama tuannya. Suatu memorial statue dibangun untuknya yakni sebuah air mancur, demi menghormati LOYALITAS anjing tersebut !

Lepas dari cerita tersebut, kita dapat belajar bahwa (maaf!) terkadang anjing jauh lebih setia daripada manusia !
Terutama dalam hal kesetiaan kita kepada Tuhan. Seringkali kita setia kepada Tuhan karena hanya takut kalau-kalau nanti Tuhan marah kepada kita, kita setia pada Tuhan agar Tuhan senantiasa memberikan berkatNya pada kita, atau berbagai macam alasan kita setia padaNya. Tapi lihatlah ! semuanya itu karena ada alasannya ! bukan berasal dari ketulusan hati melainkan karena ada faktor A,B, dan C, bahkan mungkin ada banyak alasan lainnya lagi.
Hal ini sama seperti manusia yang setia pada atasannya saja, ia setia agar dapat naik pangkat, ia setia agar bias naik gajinya, ia setia agar ini dan itu, dan ia setia karena TAKUT.

Hal ini tidak sepatutnya dan tidak sepantasnya terjadi pada kita umat Kristen, yang mengaku dan meng-klaim dirinya sebagai orang percaya,orang beriman, orang ini dan itu dengan berbagai gelar-gelar imannya yang serba “ber”

Nabi Hosea, pada kitabnya yaitu Kitab Hosea 12:7 menuliskan tentang kesetian Umat Tuhan pada Tuhan Allah yang berbunyi “Engkau ini harus berbalik kepada Allahmu, peliharalah kasih setia dan hukum, dan nantikanlah Allahmu senantiasa” Kata kasih, bukan hanya sebatas tulisan atau wacana atau bahkan mungkin menjadi pemanis bibir saja, melainkan sungguh-sungguh di-ekspresikan dan di wujud nyatakan dalam seluruh rangkaian hidup kita ini. Kesetiaan dan setia adalah seharusnya menjadi karakteristik yang khas dari umat Allah yang mengaku dirinya serba “ber” dalam hidup keber-imanannya

Pada masa pra-paskah yang suci dan indah ini, kita diberikan contoh hidup dan nyata dari seorang Anak Manusia, yang lahir dari seorang Perawan Maria, Ia yang adalah seorang Raja dari segala raja, Ia yang merupakan pencipta dunia ini, tapi Ia tetap setia kepada ciptaanNya meskipun kita sungguh sangat berdosa tapi Ia mau lahir ke dunia yang hina ini untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut, lewat wafatNya diatas kayu salib. Dari situ, kita dapat meneladai Yesus sebagai teladan umat beriman bahwa Ia sungguh-sungguh dan sangat setia kepada kita bahkan Ia tidak mau melepaskan kita kepada maut karena kesetiaanNya itu Ia harus menderita. Dan sekali lagi, Kristus setia kepada kita TANPA BERSYARAT !

Oleh sebab itu, Kesetiaan bagi kita umat beriman adalah bukan suatu yang bias ditawar-tawar, bukan pula sebuah pilihan, bukan pula karena paksaan dari factor A,B,C dan sebagainya melainkan kesetiaan itu bagi kita ialah Mutlak keharusan, namun sungguh sangat disayangkan, seringkali yang kita jumpai pada saat ini, ialah Kesetiaan itu hanya menjadi pilihan saja. Akibatnya orang yang setia menjadi begitu langka, hal ini serupa dengan apa yang dikatakan oleh kitab Amsal 20:6 “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?”

Ketika kita setia pada sesuatu yang amat kita sayangi karena kita menganggap itu merupakan sesuatu yang berharga dan bernilai dengan tanpa paksaan atau intervensi dari berbagai pihak, dapatkah juga kita ini, setia kepada Allah, yang sudah rela memberikan nyawaNya kepada kita demi member hidup baru kepada kita, tanpa ada alas an-alasan ini dan itu ?? Bukankah acapkali dalam bibir ini kita mengatakan bahwa Tuhan itu sangat berharga bagi kita?

Kesetiaan umat kepada Tuhan, sangat begitu diharapkan ada disetiap umatNya yang beriman pada Dia, seperti yang diungkapkan oleh Tuhan Yesus kepada ahli taurat dan orang-orang farisi di zamannya (bahkan juga, mungkin berlaku bagi kita-kah?)

Sama seperti kisah anjing diatas tersebut, mampukah kita setia pada Allah seperti itu? Biarlah anda sendiri yang menjawabnya dalam hati dan itu semua tulus sejati keluar dari hati yang mengaku.

Nyanyian refleksi:
PKJ 154 “Setiakah diriku padaMu Tuhanku?”

Setiakah diriku padaMu Tuhanku
Dan siapkah hatiku mengiringMu terus?
‘ku harus mengaku tidak tekun, semangat pun
Rentan, dan jiwaku yang rapuh, membuatku bercela


Our loyalty to God is not  tested when everyone is strong, but when they are not and you still are
»»  READMORE...

16.7.11

Refleksi dari sebuah camp

Beberapa minggu lalu, saya mengikuti acara camp gabungan antara komisi Remaja dan Pemuda di gereja saya, yang diadakan didaerah Bogor. Dalam camp kali ini, rupanya saya tidak hanya dilibatkan sebagai peserta saja, tapi lebih dari itu, saya dilibatkan untuk menjadi pendamping (mentor) bagi teman-teman peserta camp saat itu. Mendapatkan 'tugas' itu, tentu perasaan saya campur aduk, antara senang dan kaget ! kenapa ? Ya, karena ini kali pertama saya ditugaskan mendampingi teman-teman remaja. Tapi rupanya hal itu tidak menciutkan saya untuk menjadi pendamping bagi mereka selama 3 hari 2 malam disana. Mereka asyik dan menyenangkan !

Tapi, tugas saya gak berhenti mendampingi teman-teman remaja saja. Lebih dari itu, saya mendapatkan sesuatu yang bagi saya ini adalah pengalaman yang sangat-sangat baru dan menegangkan ! Kotbah ! Ya, saya berkotbah ! Oleh panitia, saya ditugaskan untuk memimpin ibadah pagi selama 2 hari berturut-turut ! Ini betul-betul pengalaman yang tidak mungkin dapat saya lupakan, karena ini pengalaman pertama kalinya dalam hidup saya, saya berkotbah dihadapan teman-teman remaja-pemuda. Wow... terkadang saya malah kaget sendiri kalau mengingat akan peristiwa itu. Apa yang saya pelajari selama mendampingi dan mengikuti camp ini ada banyak. Yaitu (1) komitmen, waah, kalau saja saya tidak betul-betul berkomitmen dalam mendampingi teman-teman remaja, yang akan terjadi adalah saya akan merusak seluruh rangkaian program camp ini ! Meskipun dalam camp ini ada banyak letih, duka, kaget dan sebagainya yang saya alami, namun itu semua tidak boleh dan tidak bisa menjatuhkan saya ! Justru dalam hal-hal itu saya menjumpai banyak pelajaran berharga yang saya tidak jumpai di bangku akademik saya. Jadi, ketika saya berkomitmen maka disitu saya memperoleh banyak hal ! So, if you have commitment, come on ! keep it burning in you !

(2)camp ini mengajarkan bagaimana kita dapat hidup dan survive di tengah masyarakat... tentu ini bukan hal mudah, sebagai manusia (homo socius) kita harus bisa hidup berdampingan dan bekerja sama dengan orang lain ! yaaah, meskipun sulit, namun bukan berarti bisa kita abaikan ! Tapi harus kita perjuangkan, sebab kalau kita tidak dapat hidup bersama dengan orang lain... waaah, saya jamin, kita tidak akan mampu berbuat banyak dan akhirnya kita bisa hancur.

Setidaknya 2 hal itu yang saya dapat dan menurut saya yang 'vital' dalam acara camp itu. Sebenarnya masih ada juga hal-hal kecil namun menarik untuk saya, tapi kelanjutannya akan saya tuliskan nanti, bukan dalam cerita seperti ini, tapi dalam format cerita ilustrasi lain.

So...selamat untuk teman-teman pemuda-remaja gereja gki pamulang. Proficiat ! dan sukses selalu dalam komitmennya pasca-camp kemarin, biarlah semangat camp itu boleh terus keep burning dalam hidup kita ! Selamat berproses dan selamat ber-ziarah dalam hidup kita masing-masing ! Sampai ketemu lagi kita dalam acara-acara camp selanjutnya.
»»  READMORE...

15.7.11

Hidup adalah Ekaristi

Hidup setiap manusia, tidak terlepas dari jatuh -bangun, persaingan, sukses, gagal, sedih,senang, marah, dan sebagainya.
Orang bilang hidup itu memang harus ada shock therapynya supaya kenikmatannya berasa. Ya, ga salah juga sih, memang benar kalau hidup itu harus ada 'naik-turunnya'. Hidup yang datar-datar aja, adalah hidup yang sama sekali tidak menarik, kata orang 'ga ada gregetnya'.

Manusia tampaknya akan lebih bahagia, senang, dan bangga ketika hidupnya berada di titik puncak kesuksesannya, ketika ia berada dibagian yang menurutnya membuat hidupnya nyaman, aman, dan bahagia. Susah bagi kita untuk menerima kenyataan apalagi mensyukurinya kalau kita sedang berada diposisi bawah, posisi yang sama sekali gak enak, posisi dimana sama sekali tidak membawa kenyamanan dan kebahagiaan. Ya, itulah dinamika hidup manusia. Filsafat hidup manusia mengatakan bahwa hidup itu seperti roda yang berputar, atau mungkin dengan sejuta metafora lainnya...

Mungkin kita gak sadar, bahwa sebenarnya itu semua adalah bagian dari proses kehidupan kita yang bertujuan untuk terus membarui diri kita, membarui tentunya untuk semakin positif. Kata seorang teman karib, hidup kita itu gak boleh stag pada satu titik saja, kita harus mau dan mampu berjalan mengikuti alurnya dengan semaksimal mungkin. Kita juga seharusnya mensyukuri seluruh bagian dari proses kehidupan kita. Mensyukuri bukan hanya stop pada sebatas berdoa syukur lalu berpangku tangan saja menerima ini-itu sepintas lalu. Mensyukuri itu menurut saya berarti kita bersyukur lalu berusaha mengembangkan apa yang kita terima untuk kita kembangkan menjadi semakin dan lebih baik.

Ngomong-ngomong mengenai bersyukur, yaa memang sih agak susah juga dilakukan pada saat yang gak enak. Bersykur lebih sering menjadi Lips Service dari orang-orang yang 'ada di posisi atas' kepada 'orang-orang diposisi bawah' (bukan berarti kaya atau miskin lhoo...). Ya meskipun susah, kita harus tetap belajar dan terus belajar bersyukur dimanapun posisi kita sekarang. Saya sendiri juga masih belajar untuk bersyukur dalam segala hal :)

Hidup kita itu anugerah terindah dari Tuhan. Saya seringkali takut dengan ungkapan ini, kalau dibilang anugerah, orang-orang pasti pada nangkepnya penuh dengan rezeki, berkat, dan kenyamanan. Wah, hidup itu bukan seperti jalan tol bung yang selalu lancar tanpa macet, selalu mulus jalannya, mempermudah jalan, dan sebagainya ! Kalo saya boleh jujur, hidup itu menurut saya seperti wahana Kora-kora di Dunia Fantasi Ancol, kok bisa ??  Ya..dalam wahana itu, memang agak ngeri sedikit, karena kita diayun begitu kencangnya dari atas-bawah, bawah-atas, meskipun kita diayun begitu kencangnya tapi kita tahu, bahwa itu mengasyikkan dan tetap aman. Karena  gak mungkin kita akan terlempar begitu rupa. Itulah hidup, meskipun kita diayun begitu rupa dengan cobaan-cobaan yang membuat kita kadang diatas, kadang pula dibawah namun kita tetap tahu, bahwa kita tetap aman, karena Tuhan ada mendampingi kita...Hidup itu asyik !

Banyak orang melakukan tindakan curang (a.k.a mengambil jalan pintas yang tidak tepat) demi mempertahankan top positionnya, demi mempertahankannya ia rela berbuat curang ini itu, misalnya dikalangan kita pelajar, dengan nyontek, dikalangan yang agak High Class mainannya korupsi ini-itu. Tau gak kalo sebenernya itu semua menunjukkan bahwa kita tidak menghargai hidup sebagai anugerah Tuhan lho.... kan udah dikatakan diatas, kalau hidup ini anugerah maka tidak usah khawatir, Tuhan pasti jaga deh !
Toh, kalau memang harus berada dibawah juga kita tidak akan mati kan? apa salahnya?? Mungkin kalau kita lagi dibawah itu sebuah pelajaran berharga bahwa kita harus belajar dan terus belajar memperbaiki diri terus semakin baik dan jangan stagnan diposisi nyaman kita apalagi berpangku tangan diam hanya menanti mujizat... :)

Hidup yang naik-turun namun disertai dengan usaha dan doa untuk terus bertekad maju, merupakan hidup yang indah dan patut disyukuri. Saya mungkin saat ini sedang berada diposisi yang kurang enak mungkin bisa saja posisi buruk, tapi saya berjanji dan bertekad dengan pertolongan Tuhan untuk terus berusaha memperbaikinya dan membuatnya menjadi lebih indah. Justru dalam naik turunnya hidup kita, kita dituntun untuk belajar dan terus belajar menjadi pribadi yang berkualitas, matang, dan dewasa dalam menjalani hidup ini.

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu...
karena itu memberikan kesempatan padamu untuk belajar

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit...
Karena di masa itulah kamu bertumbuh

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu...
Karena itu memberikan kesempatan padamu untuk berkembang

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru...
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih...
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan

Mungkin mudah bagi kita untuk bersyukur pada hal-hal yang baik. Namun apakah mungkin
kita dapat bersyukur pada masa surut? Ya ! kita bisa dan harus bisa !

Rasa Syukur dapat mengubah hal negatif menjadi positif, temukan cara bersyukur atas masalah-
masalahmu dan itu semua akan menjadi berkat bagimu dan bagi orang lain...
Dari tulisan diatas, kita belajar bahwa hidup itu tidak selamanya enak, namun hidup yang tidak selamanya enak itu harus kita syukuri, dan kita ambil untuk menjadi bahan baku kehidupan yang lebih baik. Hal yang baik dari posisi yang menurut kita tidak baik, kita jadikan anak tangga menuju kehidupan yang lebih baik, sedangkan yang kurang baik, kita bungkus lalu kita kubur dan lupakan. Hidup itu hanya sementara, hidup itu seperti bunga..yang sebentar saja mekar lalu kemudian mati jatuh ketanah.

Kawan, dari  notes ini kita belajar bahwa jatuh bangun dalam hidup kita pada akhirnya nanti ingin membuat hidup indah dan bermakna...

selamat menghayati dan menziarahi hidup ini kawan... Hidup kita adalah ekaristi, artinya, hidup adalah ungkapan syukur dan jalanilah hidup yang dipenuhi syukur ini, dengan syukur-syukurmu.
»»  READMORE...

Yang tak berharga, yang menyelamatkan

Saat perang dunia II, seorang anggota marinir Amerika Serikat terpisah dari rombongan kesatuannya, dan ia sendirian di hutan belantara. Kemudian ia melihat sebuah gua, dan ia masuk kedalamnya untuk bersembunyi dengan harapan ia tidak akan ditemukan oleh musuhnya. Sementara ia bersembunyi, ia berdoa memohon kepada Tuhan agar ia selamat hingga teman-temannya datang kembali untuk menyelamatkan ia.

Tiba-tiba seekor laba-laba jatuh, dan mulai menenun jaringnya di mulut gua. Walau ketakutan, tetapi dalam hati marinir itu, ia tertawa. Yang ia butuhkan adalah dinding batu untuk menyembunyikan dirinya, dan bukan seekor laba-laba yang menenun jala. Sementara laba-laba ini membuat jaring yang berlapis-lapis, terdengarlah derap tentara musuh yang mulai mendekat ke gua tempat ia bersembunyi itu. Kemudian tentara musuh itu memeriksa gua tersebut, sementara memperhatikan gua itu, mereka melihat jaring laba-laba yang tebal itu, lalu pemimpin mereka berkata "kita tidak perlu memeriksa disini, tidak mungkin ada yang dapat masuk tanpa merusak jaring laba-laba ini"

Kemudian tentara musuh-pun pergi meninggalkan gua tersebut, dan selamatlah nyawa marinir itu dari musuh yang siap membunuhnya.

Tuhan, dengan cara unik-Nya telah menyelamatkan nyawa marinir itu. Awalnya marinir ini tertawa melihat laba-laba itu, tetapi sekarang ia sadar, bahwa melalui jaring yang ia pikir tidak berguna-lah ternyata yang menyelamatkan nyawanya dari musuh. Bagi Tuhan, sebuah jaring laba-laba yang tidak berguna itu bisa lebih kuat daripada dinding batu untuk melindungi nyawa marinir itu.

Demikian juga dalam hidup kita, seringkali kita tidak sadar, bahwa justru pertolongan Tuhan hadir dalam wujud yang tidak kita duga....namun lewat yang kita tidak duga itu-lah justru malah yang dapat menolong kita...
»»  READMORE...

17.7.10

Kisah lukisan "Tangan Yang Berdoa"


Sekitar tahun 1490, ada 2 orang sahabat muda, Albrecht Durer dan Franz Knigstein, yang sedang berusaha keras untuk menjadi pelukis. Karena mereka miskin, maka mereka pun bekerja demi dapat membiayai sekolah seni yang sedang mereka ikuti.
Ternyata, waktu mereka habis untuk bekerja, sedangkan penghasilan mereka pas-pasan. Akhirnya mereka mencapai kesepakatan: Mereka akan membuang undi. Salah satu akan bekerja untuk membiayai kehidupan mereka berdua, sedangkan yang lainnya akan meneruskan belajar seni. Albrecht memenangkan tiket untuk belajar, sedangkan Franz bekerja sebagai buruh kasar.

Merekapun bersepakat, setelah Albrecht berhasil sebagai pelukis, ia akan membantu Franz untuk belajar seni.
Albrecht pergi ke sebuah kota di Eropa untuk belajar seni. Seperti yang diketahui oleh dunia, Albrecht bukan saja punya talenta sebagai pelukis, tetapi ia juga seorang yang jenius di bidangnya. Saat Albrecht telah meraih sukses, ia kembali kepada sahabatnya, Franz, untuk memenuhi janji mereka. Tetapi yang ditemui Albrecht adalah harga mahal yang harus dibayar oleh Franz. Franz yang bekerja sebagai buruh kasar kini mengalami kaku dan bengkok pada jari-jari tangannya. Tangan Franz telah hancur selamanya. Ia tak dapat lagi memegang kuas, apalagi menggoreskannya untuk sebuah karya seni yang indah. Meski impiannya menjadi pelukis tidak terwujud, Franz sangat gembira dan bahagia atas keberhasilan yang diraih temannya.

Suatu hari, Albrecht mengunjungi sahabatnya ini secara diam-diam. Ia menemukan Franz yang sedang berlutut, mengatupkan jari-jari tangannya yang telah kaku dan bengkok, khidmat berdoa untuk kesuksesan sahabatnya, meski ia sendiri tak akan mungkin lagi menjadi seorang pelukis. Albrecht Durer, si jenius, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung membuat sketsa tangan sahabat sejatinya yang sedang berdoa. Belakangan, setelah selesai menggarap lukisan itu, Albrecht memberi judul lukisannya “Tangan Yang Berdoa”.

Kini, galeri-galeri lukisan di dunia memamerkan karya-karya Albrecht, tak
terkecuali lukisannya “Tangan Yang Berdoa” yang menyimbolkan kasih, pengorbanan, kerja keras, dan rasa terima kasih yang dalam. Lukisan itu
juga mengingatkan dunia akan kekuatan, penghiburan, dan kelegaan yang didapat karena berdoa



Sumber : "Stories for the extreme teen's heart, Compiled by Alice Gray, Multnomah Publisher, USA, 2000
»»  READMORE...

15.7.10

15 Thing that God won't ask !


God won’t ask what kind of car you drove, but will ask how many people you drove who didn’t have transportation.God won’t ask the square footage of your house, but will ask how many people you welcomed into your home.
God won’t ask about the fancy clothes you had in your closet, but will ask how many of those clothes helped the needy.
God won’t ask about your social status, but will ask what kind of class you displayed.
God won’t ask how many material possessions you had, but will ask if they dictated your life.
God won’t ask what your highest salary was, but will ask if you compromised your character to obtain that salary.
God won’t ask how much overtime you worked, but will ask if you worked overtime for your family and loved ones.
God won’t ask how many promotions you received, but will ask how you promoted others.
God won’t ask what your job title was, but will ask if you reformed your job to the best of your ability.
God won’t ask what you did to help yourself, but will ask what you did to help others.
God won’t ask how many friends you had, but will ask how many people to whom you were a true friend.
God won’t ask what you did to protect your rights, but will ask what you did to protect the rights of others.
God won’t ask in what neighborhood you lived, but will ask how you treated your neighbors.
God won’t ask about the color of your skin, but will ask about the content of your character.
God won’t ask how many times your deeds matched your words, but will ask how many times they didn’t.....
»»  READMORE...

7.6.10

Iri Hati


Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

Ada sebuah kisah di Jeram Niagara, beberapa burung sering menukik mengambil air minum yang bersih. Tanpa mereka sadari, beberapa tetes air kecil jatuh di sayap mereka. Ketika hendak minum lebih banyak, tetesan air makin banyak jatuh ke sayap mereka sampai akhirnya mereka tidak kuat lagi dan tiba-tiba jatuh.

Iblis tidak selalu berusaha menjatuhkan kita dengan "dosa besar". Acap kali ia memakai "dosa kecil" untuk membuat kita jatuh. Memang, dosa tersebut tidak serta merta membuat kita jatuh. Tetapi setelah terkumpul cukup banyak, kita akan mengalami kejatuhan yang fatal.

Salah satu "dosa kecil" adalah iri hati. Suatu hari Iblis menyuruh anak buahnya menggoda petapa dari Afrika Timur. Namun petapa yang sudah terlatih ini tidak mudah digoyahkan. Akhirnya Iblis turun tangan sendiri. Ia mendekati petapa itu dan berbisik,, "Saudaramu baru saja diangkat menjadi uskup." Mendengar berita itu, seketika itu juga si petapa marah dan iri hati, "Mengapa bukan aku yang dipilih? Bukankah aku lebih senior, lebih cakap, dan lebih rohani?"

Iri hati merupakan senjata Iblis yang paling ampuh untuk mengalahkan orang yang mengejar kekudusan. Karena itu, jangan pernah izinkan hati ini dipenuhi oleh dosa-dosa kecil, karena jika kita tidak berhati-hati, dosa kecil itu justru akan berakibat fatal. Mari kita perangi dosa dengan berkata, "Tidak!" untuk setiap tawaran Ib
lis
»»  READMORE...

Keberanian yang mengubah segalanya


Alkisah, disuatu kolam yang kini airnya hampir tidak ada lagi, hidup seekor katak yang lahir dari keturunan yang baik, baik karena ia mampu lompat cukup jauh, yakni sekita 9 kaki 3 inci.
Suatu ketika ia hendak mencari kolam lain yang airnya masih penuh, serta ditumbuhi bunga-bunga nan indah disekelilingnya dan ditinggali oleh berbagai macam hewan serangga dan binatang-binatang lainnya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk pergi dan mencari kolam baru, niatnya itu diikuti oleh semangat yang menggebu-gebu, hari demi hari, minggu demi minggu ia berpetualang untuk mencari kolam yang ia impi-impikan itu. Nyatanya, ia malah masuk kedalam hutan yang hanya ditumbuhi oleh pohon-pohon rindang yang tinggi.

Semangatnyapun mulai turun perlahan-lahan menuju putus asa, ditengah keputus asaannya itu, ia bertemu dengan burung hantu, yang kelak akan menjadi guru serta pembimbingnya. Si burung hantu itu mulai menasihati serta menyemangati sang katak. Banyak nasihat dari burung hantu yang membuat ia semangat dan kembali menggairahkan semangatnya itu, meskipun kadangkala ia merasa tidak mampu, tapi, karena kemauan yang kuat serta niat yang baik, ia pun mampu menjalani petualangannya mencari sebuah kolam yang selama ini ia damba-dambakan.

Hari demi hari berlalu, sang burung hantu selalu mengajarkan bahwa, Keinginan dapat diwujudkan dengan niat serta kemauan yang kuat, karena hidup ini adalah pilihan, apakah kita mau menjalaninya, atau tidak. Hidup bukan diisi oleh peluang-peluang karena itu, hidup ini harus selalu berjuang untuk mendapatkan apa yang kita harapkan, salah satunya adalah kita harus bisa berjuang, berjuang mengatasi rasa takut akan kegagalan dalam mewujudkan impian kita, kita harus bisa mentransformasi rasa takut itu, menjadi berani, berani mengatasinya serta berani dalam menerima resiko-resiko yang akan kita hadapi. Itulah hidup yang sejati ! Ketika kita mampu menjalani semuanya itu, niscaya, kita akan menjadi manusia yang tangguh...
itulah kira-kira rangkuman nasihat-nasihat dari si burung hantu kepada sang katak.

Suatu kali, burung hantu itu memberitahukan kepada katak, bahwa ada tempat (kolam) yang sesuai dengan impian sang katak itu, namun, ada satu halangan besar, yaitu katak mesti melewati Sungai Pelanting (dinamai pelanting, karena banyak orang yang mencoba utk menyebrangi sungai itu, namun seringkali mereka terpelanting karena kuatnya arus).
sekejap, sang katak duduk termenung, mencoba kembali mengingat-ingat motivasi yang pernah diberikan kepadanya.

Sebuah keputusan yang tak terkira pun terlontar, sang katak memutuskan untuk berusaha melewati sungai itu dengan gigih dan berani,tak peduli apa ia akan gagal atau tidak !
Oleh karena itu, beberapa bulan sebelum ia menyebrangi sungai itu, ia terus berlatih, agar otot2 kakinya kuat untuk melompati sungai itu.
Akhirnya, setelah sekian bulan berlatih, kini tiba gilirannya bagi si katak untuk mewujudkan mimpinya serta harapannya itu...

Oleh karena keberanian serta diikuti niat serta kemauan yang kuat, katak itu berhasil melewati rintangan-rintangan itu, meskipun ia harus jatuh-bangun dalam proses untuk melewatinya....Hidupnya kini dipenuhi oleh niat serta gairah dalam menjalani hidup.....

Terkadang kita memiliki impian serta keinginan besar, namun, acapkali pula keinginan kita itu terhambat oleh karena ketakutan kita dalam menerima resiko yang ada didalamnya, ketahuilah, jika kita berusaha menghindari resiko-resiko itu, berarti kita menolak untuk mewujudkan impian kita itu, diperlukan keberanian untuk mau mengambil resiko itu !
Perkara kita gagal atau berhasil, percayalah, bahwa kita sudah mewujudkan sebagian dari impian dan harapan kita....


(Intisari dari buku "PING" karangan Stuart Avery Gold)
»»  READMORE...

4.6.10

Don't see by it looks


Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal di lantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.

Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya. “Lho, dia ini juga hampir cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun,” pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh...!

Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, “Selamat malam. Saya kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.” Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar.

“Aku rasa mungkin karena wajahku. Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi..."

Untuk sesaat aku mulai ragu-ragu, tapi kemudian kata-kata selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku, “Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang di luar sini, di veranda samping ini. Toh bis ku esok pagi-pagi juga sudah berangkat.” Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat di beranda.

Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau-kalau ia mau ikut makan. “Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan.” Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat. Selesai dengan mencuci piring-piring, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang terlampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini.

Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak-anaknya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka di tulang punggung. Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat! Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa-rupanya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan.

Saatnya tidur, kami bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya dikamar anak-anak. Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, "Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal disini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi."Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, "Anak2 anda membuatku begitu merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak2 tampaknya tidak terganggu."

Aku katakan silahkan datang kembali setiap saat. Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi2 jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh2, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami. Selama tahun2 ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman2 dia menjadi makin bernilai...

Ketika aku menerima kiriman oleh2 itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. "Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!" Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya,mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.

Baru2 ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman2 bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan [timum] yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata,"Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam didalam bejana terindah yang kumiliki."

Tapi temanku merubah cara pikirku. "Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu," ia coba terangkan, "dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya di taman."

Ia pastilah terheran2 sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu disurga. "Hah, yang ini luar biasa bagusnya," mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu." Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu di dalam badan kecil ini." Semua ini sudah lama terjadi, dulu dan kini, di dalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.

Bukan yang dilihat manusia, yang dilihat Allah. Manusia melihat apa yang didepan mata, namun Tuhan melihat hati kita..
»»  READMORE...

3.6.10

US$ 20


Suatu ketika, seorang pembicara terkenal, memulai pidato seminarnya dengan menggunakan ilustrasi selembar uang 20 Dollar yang masih baru. Kemudian, ia bertanya kepada seluruh peserta seminar "Siapa yang mau uang ini ?" sambil mengangkat tangannya yang menggenggam uang 20 Dollar itu.
Kemudian ia kembali mengatakan "Saya akan memberikan uang ini kepada anda, namun, izinkan saya untuk melakukan ini" lalu ia mulai meramas-remas uang tersebut hingga uang itu menjadi sangat kumal, kembali pula ia bertanya sambil mengangkat tangannya yang memegang uang itu "Siapa yang masih menginginkannya ?"

"Baiklah" katanya "Bagaimana kalau saya lakukan ini ?" kemudian ia menjatuhkan uang itu seraya menginjak-injak uang itu dengan sepatunya yang agak kotor, hingga akhirnya uang itu menjadi sangat kumal serta kotor.

Kembali lagi ia bertanya "Siapa yang masih menginginkan uang ini ?"

"Saudara-saudari, anda semua telah mempelajari sesuatu yang sangat berharga, tidak peduli pada apa yang saya perlakukan kepada uang ini, namun saya yakin anda semua pasti ingin tetap memilikinya bukan? Sebab, bagaimanapun saya memperlakukan uang ini, nilainya tetap sama, yaitu tetap 20 Dollar. Dalam hidup kita, terkadang kita merasa bahwa hidup kita ini begitu hancur, begitu rusak, dan begitu kotor oleh karena apa yang kita lakukan dan karena lingkungan kita. Kita terkadang merasa begitu tidak berharga, tetapi, apapun dan bagaimanapun yang terjadi dalam hidupmu, ingatlah !, bahwa saudara-saudari sekalian tidak pernah kehilangan nilaimu di mata Tuhan ! Bagi-Nya, bersih atau kotor, kumal atau rapih, anda tetap berharga di mata-Nya."

Mazmur 178 mengatakan bahwa Tuhan tetap menjaga kita sebagai biji mata-Nya yang amat berharga !

Kita ada, karena kita istimewa di mata-Nya...

»»  READMORE...

2.6.10

Berpikirlah Positif


Pada hari Minggu yang lalu, saya menghadiri kebaktian II di gereja dimana saya berjemaat, seluruh rangkaian liturgi ibadah diikuti oleh jemaat dengan baik, meskipun terlihat beberapa jemaat yang datang terlambat, sebagian dari mereka ada yang datang ketika votum, bahkan saat pengakuan dosa, maka, mau tidak mau, merekapun harus mengikuti kebaktian diluar gedung. Ya, tapi ibadah terus berjalan dengan hikmat.

Hari Minggu itu, dalam kalender liturgis gereja saya, jatuh pada pesta perayaan hari Trinitas (beberapa gereja menyebutnya juga dengan hari raya Tritunggal Mahakudus, namun intinya sama) Maka, inti / pusat dari Ibadah pada hari itu adalah membahas tentang ke-Tritunggalan Allah yang mengasihi kita umatNya. Mulai dari lagu pembukaan hingga kolekte umat, semuanya berjalan dengan khusuk dan lancar, dan mata umatpun tertuju pada liturgi dan pelayan sabda dengan baik, maklumlah, beberapa umat ada yang hadir dengan semboya 4D-nya hehehe..
apa itu 4D? yaitu, Datang, Duduk, Diam, Dengar, jadinya belum tentu tertera dihati mereka.

Namun, lepas dari itu semua, ketika perayaan liturgi, memasuki Ritus Pengutusan, 2 orang wanita paruh baya, baru datang mengikuti kebaktian hari itu ! Bayangkan saja, kebaktian dimulai pukul 09.30, namun mereka baru hadir pukul 11.00 !
Tentu saja, hal ini mengundang perhatian jemaat sekitar mereka duduk, satu per satu umat mulai berbisik-bisik pada satu sama lain. Saya yakin, bahwa apa yang dipikirkan oleh jemaat sama seperti apa yang saya pikirkan, yakni, Mereka tidak sopan !
Ya, pasti itu yang ada di benak jemaat sekitar.

Namun, akhirnya saya mencoba melihat dari sisi positifnya....Ya ! akhirnya saya bisa menemukan sisi postifnya !! Yang dapat saya petik dari pengalaman ini adalah, meskipun mereka datangnya sangat telat, namun, mereka setidak-tidaknya masih memberikan usaha mereka untuk hadir pada kebaktian, meskipun sisi negatifnya lebih banyak, tapi setidaknya ada sisi positifnya sedikit bukan?

Terkadang, kita semua, hanya memandang seseorang yang berbuat salah, dari sisi negatifnya, entah dia orang baik atau bukan, namun jika ia melakukan sedikit kesalahan saja, kita sangat mudah untuk menghakimi, bahkan mungkin memaki dia, sebab ! kita tidak mampu memberikan sedikit ruang positif untuk kita lihat, apa yang tampak dominan, itulah yang acapkali menjadi tolok ukur penilaian kita, sedangkan apa yang tampak kecil, kita abaikan....Perlu kita ketahui, bahwa terkadang, apa yang kita lihat kecil dapat mengubah sesuatu yang besar, senada dengan peribahasa dalam bahasa Indonesia "Karena nila SETITIK maka rusak susu SEBELANGA"

Pandangan positif akan sesuatu, pasti akan mengubah seluruh pola pikir kita menjadi positif terhadap sesuatu yang tadinya kita anggap buruk....
»»  READMORE...

Jean Dominique-Bauby



Rasanya kita semua tidak kenal dengan orang yang bernama Jean-Dominique Bauby, kecuali Anda perempuan dan berbahasa Perancis atau suka membaca majalah bernama Elle. Ia pemimpin redaksi Elle. Tahun 1996 ia meninggal dalam usia 45 tahun setelah menyelesaikan memoarnya yang "ditulisnya" secara sangat istimewa dan diberinya judul Le Scaphandre et le Papillon (The Diving Bell and the Butterfly).
Tahun 1995 ia terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang disebut 'locked-in syndrome', kelumpuhan total yang disebutnya 'seperti pikiran di dalam botol'. Memang ia masih dapat berpikir jernih tetapi sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak.

Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kirinya. Jadi itulah caranya berkomunikasi dengan para perawatnya, dokter rumah sakit, keluarga dan temannya. Mereka menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip bila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya.

"Bukan main", kata Anda. Ya, itu juga reaksi semua yang membaca kisahnya.

Buat kita, kegiatan menulis mungkin sepele dan menjadi hal yang biasa. Namun, kalau kita disuruh "menulis" dengan cara si Jean, barangkali kita harus menangis dulu berhari-hari.

Betapa mengagumkan tekad dan semangat hidup maupun kemauannya untuk tetap
menulis dan membagikan kisah hidupnya yang begitu luar biasa. Ia meninggal 3 hari setelah bukunya diterbitkan.

Jadi, "Berapapun problem dan stress dan beban hidup kita semua, hampir tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Jean!"

Apa yang antara lain ditulisnya di memoarnya itu? "I would be the happiest man in the world if I could just properly swallow the saliva that permanently invades my mouth". Bayangkan, menelan ludah pun ia tak mampu !. Jadi kita yang masih bisa makan roti secuil pun, seharusnya sudah berbahagia 100 kali lipat dibanding si Jean.
Kita bahkan senantiasa mengeluh, setiap hari, sepanjang tahun.

Apa lagi yang dikerjakan Jean di dalam kelumpuhan totalnya selain menulis buku? Ia mendirikan suatu asosiasi penderita 'locked-in syndrome' untuk membantu keluarga penderita. Ia juga menjadi "bintang film" alias memegang peran di dalam suatu film yang dibuat TV Perancis yang menceritakan kisahnya. Ia merencanakan buku lainnya setelah ia selesai menulis yang pertama. Pokoknya ia hidup seperti yang dikehendaki Penciptanya, 'to celebrate life', to do something good for others.

Jadi, betapapun kemelutnya keadaan kita saat ini, mereka yang sedang stress berat, mereka yang sedang berkelahi baik dengan diri sendiri maupun melawan orang lain atau anggota keluarga, mereka yang sedang tidak bahagia karena kebutuhan hidup nya tidak terpenuhi, mereka yang jalannya masih terpincang-pincang karena baru saja terinjak paku, mereka yang sedang di-PHK, saya yakin kita masih bisa menelan ludah. Semoga kita semua tidak terus menjadi whiner, pengeluh abadi, manusia yang sukar puas. Kata orang bijak, "Think and Thank", berfikirlah dan kemudian bersyukur lah.


Jika hidup kita hanya dipenuhi dengan keluhan-keluhan, hidup ini tentu akan berasa tidak menyenangkan, namun, apabila anda senantias bersyukur, apa yang anda alami dalam hidup ini, tentu semuanya akan terasa indah....
»»  READMORE...

Kisah 5 Sahabat


Disebuah sekolah yang cukup terkenal di kota New Jersey, sekolah itu terkenal karena siswa-siswi sekolah tersebut berasal dari keluarga bangsawan, konglomerat, pengusaha, pejabat tinggi pemerintahan serta berbagai keturunan orang kaya.

Disekolah itu, 5 orang anak, yang bernama Tiffany, Alex, David, James, dan Anne, mereka semua saling bersahabat satu dengan yang lainnya, manakala mereka mempunyai project dari sekolah, mereka pun mengerjakannya bersama-sama, dan setiap kali salah satu dari mereka berada, disitu pula ketiganya berada.

Tiffany, salah seorang anak pejabat yang cukup terkenal di sekolah itu, karena ayahnya merupakan salah satu donator bagi kelangsungan sekolah itu, cukup bahkan dihormati sekali di sekolah itu. Selain, terkenal dengan kekayaannya, Tiffany pula dikenal sebagai anak yang ramah, dan ringan tangan. Ia tidak menjadi sombong atau angkuh karena kekayaannya itu, oleh karena itu, ia amat di sayangi oleh teman-temannya dan bapak ibu gurunya

Mereka berlimapun (Tiffany, Alex, David, James, dan Anne), selalu bersama berkumpul untuk berakhir pekan bersama, entah itu di Mall, atau hanya sekadar jalan-jalan keliling kota itu. Terkadang mereka menghabiskan waktu untuk bercanda, saling curhat, makan-makan di restoran, menonton di bioskop, berakhir pecan di villa diluar kota milik Tiffany, atau hanya berkumpul di rumah Tiffany.

Hari demi hari pun berlanjut, kini, mereka pun sudah beranjak dewasa,kini mereka duduk di kelas XII High School dan masing-masing mereka akan melanjutkan kuliah di universitas pilihan mereka masing-masing, dan kebersamaan mereka pun masih tetap terpupuk dengan amat baik, bahkan kebersamaan mereka semakin mempererat kebersamaan antar satu dan yang lainnya.

Namun, suatu kala, usaha dari ayah Tiffany mengalami kondisi yang parah menuju kondisi bangkrut, akibat dari krisis ekonomi global, dimana daya beli masyarakat di Negara mereka amat sangat buruk dan terpuruk, saham-saham ayahnya pun mendadak turun drastic, akibatnya, Tiffany yang tadinya orang kaya, berangsur-angsur mulai berkurang kekayaannya bahkan ia menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Lantas, karena kondisi itu, Tiffany pun tidak bisa kembali ikut berkumpul bersama teman-temanya lagi pada akhir pekan, karena keterbatasan dana yang ia miliki sekarang. Apabila dulu yang Tiffany terkenal dengan donasi-donasinya yang besar, kini sudah tidak lagi. Alex, David, dan James, sahabat-sahabat Tiffany ini, yang sering bersama Tiffany dalam setiap keadaan dan situasi, kini mereka bertiga, perlahan-lahan mulai mengabaikan Tiffany, Tiffany tidak pernah lagi diajak kumpul bersama mereka, setiap kali Tiffany menanyakan mengapa ia tidak diajak, acapkali pula 1001 alasan terlontar dari 3 anak itu.

Tentu hal ini membuat Tiffany sedih, namun salah satu sahabatnya, Anne, masih tetap setia bersama Tiffany dalam keadaan apapun, ia masih sering mengunjungi rumah Tiffany, ia pula yang setia menemani Tiffany dalam segala sesuatu.

Suatu ketika, usaha ayah Tiffany, kembali mengalami perkembangan yang baik, sehingga kondisi keuangan keluarga Tiffany, berangsur-angsur mulai membaik. Setelah keadaan ini, ketiga temannya yang tadi Alex, David, dan James, kembali mulai mengajak Tiffany untuk jalan-jalan atau melakukan aktivitas lainnya, berbeda sekali dengan Anne, disaat Tiffany dalam kondisi terpuruk ia tetap berada di samping Tiffany, ia tidak meninggalkan Tiffany oleh karena ia jatuh miskin.

Terkadang, pula kita menjumpai hal yang sama, dimana beberpa orang akan meninggalkan teman karibnya sendiri oleh karena, temannya memiliki kondisi yang buruk, mereka tidak mau merangkul temannya dikala mereka susah, namun disaat senang, mereka akan dengan setia berada disampingnya, dan disaat kondisi yang buruk, mereka berusaha menjauh-sejauh-jauhnya dari kawannya itu.

Sahabat, bukan dilihat dari seberapa sering ia ada bersama dengan kita, atau seberapa dekat ia dengan kita. Sahabat adalah ia yang mau menerima kita dan mau bersama kita dikala kita susah ataupun ketika kita sedang senang….

»»  READMORE...